Di sini saya merujuk pada hilangnya disiplin-disiplin raga, disiplin fikiran dan disiplin jiwa! disiplin menuntut pengenalan dan pengakuan atas tempat yang tepat bagi seseorang dalam hubungannya dengan diri, masyarakat dan umatnya! pengenalan dan pengakuan atas tempat seseorang yang semestinya dalam hubungannya dengan kemampuan dan kekuatan jasmani, intelektual dan spiritual seseorang itu! pengenalan dan pengakuan atas hakikat bahwa ilmu dan wujud itu tersusun secara hirarki.
Oleh karena adab merujuk pada pengenalan dan pengakuan atas tempat, kedudukan dan keadaan yang tepat dan benar dalam kehidupan, dan untuk disiplin pribadi agar ikut serta secara positif dan rela memainkan peranan seseorang sesuai dengan pengenalan dan pengakuan itu, terjadinya adab pada diri seseorang dan pada masyarakat sebagai suatu keseluruhan yang mencerminkan kondisi keadilan. Hilangnya adab menyiratkan hilangnya keadilan, yang pada gilirannya menampakkan kebingungan atau kekeliruan dalam ilmu.
Dalam hubungannya dengan masyarakat dan umat, kebingungan dalam ilmu tentang Islam dan pandangan alam (worldview) Islam menciptakan keadaan yang memungkinkan pemimpin-pemimpin palsu muncul dan berkembang serta menimbulkan ketidakadilan. Mereka melestarikan keadaan ini karena hal itu menjamin keberlanjutan munculnya pemimpin seperti mereka untuk menggantikan mereka setelah mereka pergi, dan mengekalkan pengaruh mereka atas urusan umat. (Islam dan Sekulerisme, 2010: 131-132).
Menyamakan NU dengan FPI dan HTI tentu saja tidak adil. Akan tetapi menganggap NU sebagai ormas baru lalu seenaknya bersikap “kurang ajar” kepada NU adalah perbuatan biadab. NU ormas sepuh. Menyimpan segudang pengalaman, ilmu dan hikmah.
Mengakui semua ini membutuhkan keikhlasan dan kejujuran tingkat “dewa”. Ikhlas dan jujur merupakan adab batiniah paling asasi bagi pembela Islam. Adab ini juga menjadi wadah bagi ilmu.
Tanpa keikhlasan dan kejujuran untuk mengakui hirarki keormasan, keilmuan dan senioritas, maka selautan ilmu agama para pembela Islam akan berubah seketika menjadi tsunami yang meluluhlantakkan kehidupan bangsa dan negara dengan sekali hentak gempa politik yang dahsyat.
Artikel ini adalah buah karya Kang Ayik Heriansyah, Aktivis di LDNU Jabar.
Tampilkan Semua
